Jumat, November 27, 2009

KESEMPATAN TERAKHIR

"Udah berapa surat yang lu kirim buat Derril. Min?" TanyaWindi. Seorang sahabat Mina. Derril adalah salah satu personil group band Cofee N Tv yang di idolakan Mina. Bukan hanya itu dia sangat memimpikan seorang Derril si penabuh drum itu.
Mina seperti mengingat-ingat berap surat yang sudah dia kirimkan kepada Derril dan satu pun tanpa balasannya.
"Lima belas surat. " Sahut Mina. Dia menutup amplom surat lalu memberikannya pada seorang petugas kantor pos. Windi hanya mengeleng-gelengkan kepala sambil berdecak heran.
"Kilat khusus Dek?" Tanya seorang petugas pos tadi.
"Iya pak, kilat khusus." Mina mengeluarkan uang lima ribu rupiah. Uang itu dari hasil sisa uang jajan yang dikumpulkannya selama satu minggu. Petugas kantor pos itu memberikan tanda bukti pengiriman surat kilat khusus pada MIna dan dia menyimpannya di sela-sela bukunya.
"Apa sih yang lu harapin dari surat-surat yang lu kirim ke Derril?" Tanya Windi.
"Gue cuna pengen Derril tau...gue ada untuk dia....kalo yang muluk sih gue berharap bisa ketemu dan di peluk sama dia....Atau jadi pacarnya?" Mina bergurau sambil tersenyum membayangkan itu lalu dua sahabat itu naik angkot yang membawa mereka pulang.
Mina seorang gadis kelas tiga SMU, dia dilahirkan dari keluarga dengan hidup yang sangat prihatin. Mina hanya memiliki seorang Ibu, Ayahnya meninggal sejak dia masih kecil, semenjak itu ibunya tidak pernah menikah lagi. Ibunya bekerja sebagai tukang cuci dan menyetrika pakaian anak-anak kost yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Mina membatu Ibunya mencuci
atau menyetrika pakain yang kadang di bawa kerumah, dikerjakannya setelah dia selesai pulang sekolah. dari situlah dia dan Ibunya membiayai hidup, untuk makan dan sekolah MIna.
setiap malam di kamar berukuran kecil, Mina sering bermimpi tentang Derril sang idola... Beberapa

Selasa, November 24, 2009

Aku...

Aku gelisah di ujung malam.. Cahaya bulan menyala dalam impian tapi tak kunjung nyata ku raih... Aku berpikir Hidup yang ku tempuh Apakah seindah alir air? Aku berpikir,apakah hidup yang ku jalani berakhir di titik ini? Malam datang Malam pergi Seperti jam berdentang... Rahmat atau kutukan? Kerinduan yang mengendap di dalam hati.. Karna diri mu hanya bayang-bayang yang tak dapat ku sentuh namun batin tak lelah menunggu.... -rumah keong- 150609 -twul-

bukan berarti....

Bukan karna kita belum pernah bertemu atau di pertemukan. Yang jelas kita terpisah jarak dan waktu dan bukan berarti berhenti saling mengingat berhenti saling perduli.. Bukan berarti semuanya di awali dengan jabat tangan.. Bukan berarti pertemanan tidak bisa di jalani.. Yang pernah ada tak akan hilang.. Yang tak pernah bertemu di pertemukan.. Yang pernah hilang di pertemukan kembali.. Dari sini semua berawal... untuk para kepompong Twul -rmh keong-

PenyemangatKu...

Duduklah, wahai penyemangatku.. Di sini, embun pelipur dahagaku. Di hati antara sakit dan lupa.. Ku biarkan kau sematkan rembulan. Seperti cahaya menerangi duka ku. Dari jauh ku rasakan hadirmu menghapus sedihku. Biarkan pagi kembali dan malam menghilang.. Tak usah kau sering menoleh padaku.. Karna diam-diam.. Aku mengendapkan rindu untuk mu.. ¤untuk penyemangat ku si muka senyum it's my rock N roll sweetHeart -rmh keong- Twul..

kamu...

Kamu matahari pagiku.. kamu napas di tiap pagi... kamu adalah embun yang daun lahirkan... menetes saat mentari bersinar kamu adalah penguat yang datang di antara keterpurukan yang menderu. kamu adalah sejuk yang angin bawa. kamu adalah sinar yang mentari lahirkan. setelah fajar pergi kamu adalah air mata.. ketika membayangkan hubungan kita.. kamu adalah alasan mengapa duniaku,ada... Untuk B

Aku menemukan mu....

Aku menemukanmu Ketika hatiku meredup Aku menemukanmu ketika jiwa berada dalam kekosongan Aku menemukanmu ketika raga ini kelelahan Mencari sesuatu yg telah lama hilang.. Mencari sesuatu yg terasa indah Mencari sesuatu yg penuh ketulusan Aku mencari dan menemukanmu cinta... Untuk b...

ALL ABOUT MIYA.....

Donatnya Mba… Enak lho masih anget… Baru dibuat..” Gelengan ke empat. Lama-lama aku bisa kaya robot gedek nih. Satu orang kakek dengan cucunya yang masih ABG, mereka duduk di sebrang tempat dudukku. Bau minyak angin cap kapak pasti itu parfum si kakek. Lalu dua orang ‘masteng’ alias mas-mas tengil. Untung mereka ngga duduk disini, tempat duduk disebelah ku masih tetap kosong. “korannya… Koran… Koran… Republika, Kompas, Pos kota, Lampu merah, Wanita Indonesia, Bintang… Korannya… Koran…” “Pagi mba Miya… Nih Koran kompasnya.” Sapa Rosid si tukang koran langgananku di bis. Gara-gara tiap hari beli Koran dari si Rosid, jadi kenal deh. “Nih uangnya… Kembaliannya buat Koran besok aja Ros…” “Oke… Selamat bekerja mba… Lagu saya jangan lupa ya…” Si Rosid ngeluyur kebelakang. Baca Koran di bis hal yang paling sering dilakukan para penumpang selain tidur dan bengong. Jadi bukan Cuma aku saja yang merasa bosan di dalam bis. Dengan baca Koran jadi ngga ketinggalan berita. Bolak-balik lebar per lembar Koran, dari halaman satu ke halaman selajutnya. Ups… Ada cowok keren, akhirnya. Semoga saja cowok itu duduk di sebelah gue, siap-siap dulu ah… aku buru-buru merapihkan Koran, bacanya ntar aja. Mataku sempat meliriknya. Mmmm… ganteng juga. Ayo dong duduk disebelah ku…harapku dalam hati. Eh… siapa tuh yang di belakang cowok itu? Huh… sial ternyata cowok keren itu sama cewek. Dia benar-benar duduk di dekatku tapi sama cewek yang terlihat seperti pacarnya itu. Kita duduk sederet, aku ceweknya dan cowok keren itu. Bis perlahan mulai melaju. Alhasil sepanjang perjalanan aku Bete plus ‘mupeng’… karena mereka berdua mesra banget, pegangan tangan terus serasa Romeo and Juliet. Mereka ngga sadar kalo lagi di tempat umum, tepatnya di dalam bis… serasa dunia milik berdua yang lain ngontrak… Ahh… mendingan aku tidur deh. Hari ini aku pulang kerja agak cepat dari biasanya, ngga ada meeting dadakan, schadulle acara pun udah di konsep untuk lima hari kedepan dan ngga ada yang di rubah. Saat ini aku hanya ingin cepat sampai dirumah, biar bisa istirahat terus tidur. Ngantuk berat nih. Dan syukurnya aku cepat dapat bis yang kosong, aku duduk di tempat “pw’ berharap bisa memejamkan mata. Kali ini aku ngga berharap bakalan ada cowok yang keren yang duduk di sebelah, cuma berharap bisa tidur untuk menghilangkan sedikit pusing di kepalaku. Ada seorang Ibu yang duduk disebelahku, ibu itu tersenyum kepada ku sebelum duduk. Aku membalasnya dengan tersenyum kembali. Bis perlahan melaju, aku menghela napas seraya menyamankan diri. Sesaat bisa leuyeuh-leuyeuh nih, tumben agak sepi, ngga ada tukang jualan asoangan, pengamen juga ngga ada. Bis masuk gerbang tol. Aku udah hampir pules… “Dek… Sekarang ongkosnya berapa ya?” Tanya ibu yang duduk di sebelahku. “Lima ribu…” Nih Ibu ngga tahu apa aku ngantuk banget. “Wah sudah naik toh, dulu kan tiga ribu lima ratus… Gara-gara BBm naik ya dek?” Kata Ibu itu yang bicaranya agak sedikit medok, sepertinya dia berniat mengajakku ngobrol. “Iya… Semuanya udah naik Bu.” Aku menguap sambil ditutup tentunya. Ibu itu sadar kalo aku ngantuk berat, setelah itu dia membiarkan aku untuk tertidur sesaat setelah kenek menagih ongkos bisnya. Bis keluar dari jalan tol. Beberapa penumpang mulai ada yang turun, aku masih tidur-tidur ayam karena aku turun dipemberhentian terakhir, sekitar setengah jam lagi baru sampai. Masih ada kesempatan memejamkan mata. Bis perlahan melaju lagi setelah menurunkan beberapa penumpang. Ibu yang duduk di sebelahku sepertinya masih belum turun. Perlahan aku bisa tertidur pulas. Ngantuk beneran nih? Awas jangan sampai ngiler lho.. J “Kampus… Kampus…. Ada yang turun di kampus?” Teriak si kenek. “Dek… Dek bangun tuh kampusnya, nda turun?” Kaget aku. Si Ibu yang duduk disebelah tiba-tiba membangunkanku. Hampir saja jantungku copot. Aku mengusap wajahku. “Ngga bu… Saya ngga turun disini.” “Oo… Walah nda toh… Maaf saya takut adek kebapblasan… ta piker kamu turun di sini mau kuliah.” Ibu itu merasa bersalah. “Ngga apa-apa Bu…” Aku berusaha pasang muka tersenyum untuk mengahilangkan rasa bersalah ibu itu. Walaupun aku ngga bisa tidur lagi sampai akhirnya turun dari bis. Hu-uh kenapa pagi ini aku bangun kesiangan, Mona juga payah nih biasanya dia rajin ngebangunin. Sebel! Aku mesti buru-buru nyampe, alamat kena marah boss nih… “Yah… Miya berangkat ya.” Pamitku pada Ayah. “Kok buru-buru, gak sarapan dulu Nak?” “Aku udah telat… Mona sih ngga bangunin aku.” Sahutku sambil bergegas memakai sepatu. “Mona tugas keluar kota Miya… Kalo udah kerja mestinya kamu bisa bangun sendiri dong.” Ujar Ayah. Semenjak Ibu meninggal dunia beberapa tahun yang lalu, Ayah merangkap sebagai Ibu buat aku dan Mona. Ayah ngga pernah berniat menikah lagi, Ayah tidak ingin menyakiti hati kedua anaknya yang sudah terluka karena kepergian Ibu. Bagi Ayah tidak ada perempuan lain yang bisa menggantikan ibu. Mungkin itu yang di katakan cinta sejati. “Iya Ayah… Miya berangkat ya.” Aku mencium tangan Ayah. “Hati-hati nak.” Aku berjalan secepat kilat, pengen buru-buru sampai terminal terus cepat naik bis. Jangan sampai telat sampai tempat kerja. Gimana caranya sebelum jam delapan bisa sampai disana? Jam enam lewat baru di terminal bis, seperti biasa biar pun masih pagi yang namanya terminal tetap saja ramai. Tukang jualan asongan udah mulai menjajakan dagangannya. Mana nih bisnya, kok belum nongol juga? Lima belas menit berlalu. Bis Ac yang biasa aku tumpangi belum datang juga? Aku udah mulai gelisah, lama-lama makin siang jalanan makin macet nih… Ada sepuluh kali aku melihat jam tangan. Tapi tuh bis belum datang juga. “Pagi mba Miya… Kok belum naik bis?” Sapa Rosi. “Eh… Rosid, iya nih dari tadi gue nunggu Ac 60 tapi ngga nongol-nongol.” Rosid memberikan koran yang biasa aku beli. “Ac 60 kagak ada mba, mendingan naik odong-odong aja tuh dari pada telat.” “Masa sih ngga ada?” “Beneran mba, saya kagak bo’ong dah… Ac 60 lagi pada demo…” “Ya udah deh gue naik odong-odong aja tapi yang mana bisnya?” “Yang itu tuh bisnya.” Rosid menunjukan bis yang seharusnya udah menjadi besi tua. “Ya udah gue jalan ya… Makasih lho udah di kasih tau…” “Mba jangan lupa puterin lagu saya ya…” “Pasti.” Aku berlalu meninggalkan Rosid dan menaiki bis yang ditunjukan Rosid. Sudah lumayan penuh penumpangnya, tapi aku masih bisa dapat duduk. Bis perlahan melaju meninggalkan terminal jam tujuh kurang lima belas menit. Nyaman ngga nyaman deh dengan Ac alam daripada telat. Sambil baca Koran berharap walaupun tipis harapannya tapi tetap berharap ngga macet. Bis lumayan ngebut setelah sang kenek berteriak pada sopir. “Rapat… Rapat… 78 di belakang.” Si sopir langsung tancap gas.

ALL ABOUT MIYA.....

Puiiiiih… Hari yang cukup melelahkan, selesai bekerja maunya sih nikmatin perjalanan pulang, tapi gimana mau nikmatin kalo perjalanan pulangnya saja naik bis. Pulang pergi kerja aku harus naik turun bis dari hari senin sampai jum’at… Naik bis itu penuh perjuangan lho… Mulai dari nunggunya saja sudah lama banget bikin kaki pegel dan rasanya kesabaranku sampai habis. Belum lagi aku harus lari-lari mengejar bis, padahal aku sudah nunggu di halte tapi tetap saja yang namanya sopir bis suka berhenti seenak udelnya. Habis itu belum tentu aku dapat tempat duduk. Kalo sudah begitu wajib sabar deh desak-desakkan sama penumpang lainnya, aku juga mesti rela digeser-geser sama kenek alias kondektur yang kadang rese plus bawel. Berdiri di bis juga harus selalu berpegangan dan siap siaga , kalo-kalo tuh sopir menginjak rem mendadak, aku bisa tersungkur jatuh. Penumpang sudah mirip ikan pepes berjubel, berdesakan didalam bis tapi yang namanya kenek masih tetap saja menyuruh penumpang geser… Hu-uh… sebel!!! Belum lagi ada orang yang menginjak kakiku. Mau marah tapi orang yang nginjek suduh keburu minta maaf atau malah cuek saja berlagak ngga menginjak apapun, serasa ngga punya dosa. Bau keringat, bau ketek, bau jempol, bau mulut dan bau segala macam sudah pasti jadi aroma terapi yang bikin aku tambah stress, walupun bis yang aku tumpangi adalah bis AC tapi tetap saja semua bau tetap tercium olehku, AC sudah tidak terasa dingin lagi karena terlalu banyak penumpang di dalam bis. Kalo sudah begini aku menghujat diri sendiri. Rugi… rugi banget naik bis AC bukannya nyaman malah kayak ikan pepes, sudah ongkosnya mahal, berdiri, bau ketek, kaki terinjak, boro-boro nikmatin deh yang kaya begini… Rasanya masih segudang penderitaan penumpang bis seperti Miya… enaknya sih naik taksi, tapi aku bisa bangkrut deh. Kerja saja baru dapat tiga bulan, paling-paling Cuma bisa naik taksi kalo habis gajian. Hari berikutnya harus super irit make duit, kalo sudah begitu tanggal gajian terasa lama datangnya. Beginilah nasib.... “MIYA… MIYA BANGUN… NGGA KERJA LO?” Kenapa sih si Mona harus teriak-teriak. Mona itu kakakku satu-satunya, dia kerja jadi sekertaris di Bank swasta. Nasibnya lebih baik dari aku, dia tidak harus naik turun bis buat pergi ketempat kerjanya. Seandainya Mona naik bis juga, sudah pasti jadi pusat perhatian orang banyak, bukan hanya Mona cantik tapi kadang Mona suka pakai rok super mini jadi mana mungkin dia naik turun bis? Tapi beruntungnya Mona sudah punya cowok yang merangkap jadi sopir pribadinya. Pengki alias Frenky cowok ‘siaga’ siap antar jaga, kemana pun perginya Mona, Pengki selalu siap nganterin Mona dengan mobil pribadi tentunya, Apesnya aku ngga bisa nebeng. Tempat kerja Mona denganku berlainan arah. “MIYA LO MAU KERJA NGGA SIH?!” Si Mona bawel banget sih. “Iya… Iya… jangan teraik-teriak gitu dong masih pagi juga, emangnya sekarang jam berapa Mon?” “Jam lima…” “Baru jam lima… Lima menit lagi deh.” “Ya ampun Miya… Bangun kok pake nunggu lima menit lagi…” “Aaaaaaahhh… Mon please deh, gue masih ngantuk nih… kemarin cape banget tauu.” Aku menarik selimutku kembali. Tapi itu si Mona masih terus saja mengoceh. “Yang namanya kerja ya cape… Udah cepet bangun, belum mandi, sholat subbuh, belum dandannya.” “Yang dandannya lama tuh lo.” Mona cengengesan.” Kerjaan gue sih ngga bikin cape, kemarin gue berdiri di bis… jadi pegel banget kakinya, lo sih enak di jemput sama si Pengki!” “Hehehe… Cari cowok dong…” Ledek Mona. “Lagian lo kenapa berdiri di bis? Kan ada tempat duduknya?” Lanjut Mona yang dari tadi sibuk berdandan ria. “Yeeeeee… Monaaaaa… Bisnya penuh tau, gue ngga kebagian duduk.” “Kenapa lo naik bis yang udah penuh? Masih bias nunggu bis yang berikutnya kan?” “Keneknya bilang… Kosong… kosong… Pas gue naik, ternyata semua tempat duduk udah penuh.” “Lagian mau aja di bo’ongin sama kenek.” “Mana gue tau kalo tuh kenek bo’ong?!” “Udah cepet mandi sana… Lima menit udah berlalu!” Perintah Mona sambil cengengesan. “Aaaaaa... Monaaaaa… Elu ngajakin gue ngomong terus sih… terbuang sia-sia deh lima menit waktu tidur gue.” “Segitu nyeselnya...” Mona tambah cekikikan. Selama kerja rasanya waktu buat istirahat dan tidur kurang banget. Jadi wajar saja kalo biasanya aku nerusin tidur di bis sepanjang perjalanan ketempat kerja. Dan itu sangat menolongku. Kalo ngga bakal ngantuk habis pas kerja. “Monaaaa… Gue berangkat duluan.” “Hati-hati dijalan…” Sahut Mona yang lagi nunggu di jemput pacarnya sambil terus touch up dandanannya. Akhirnya setelah menunggu lama di terminal yang rada-rada bau pesing, bis yang pengen aku tumpangi nongol juga. Sepertinya pagi ini aku cukup beruntung masih banyak tempat duduk yang kosong, jadi bisa bebas memilih tempat duduk. Duduk di pojok dekat jendela merupakan tempat yang nyaman buatku, bisa tidur sambil nyender ke kaca jendela, bisa leluasa melihat keluar dan yang paling penting aku ngga perlu lagi digeser-geser sama kenek yang rese. Pokoknya ini tempat paling ‘pw’ posisi wee_nak… Aku duduk nyaman di bangku tiga urutan yang kempat dari depan,di pojok dekat jendela. Ac masih terasa dingin, sweeter yang aku pakai masih bermanfaat. Biasanya selain tidur sepanjang perjalan aku menghibur diri dan menyenangkan hati, sekaligus mengisi kekosongan. Apalagi ini bis ngga jalan-jalan alias ngetem nunggu penumpang. Mataku biasanya iseng berburu cowok keren yang naik bis, udah pasti langka? Tapi aku tetap berharap-harap ada cowok keren yang duduk di sebelahku. Diantara hiruk pikuk tukang jualan asongan mataku terus berburu kalo-kalo ada cowok keren, tapi aku juga mesti siap-siap geleng kepala nih, soalnya banya tukang julan asongan yang nawarin dagangannya. “Tarahu… Tarahu… Tarahu… Tarahu neng?” Tuh kan udah mulai. Satu gelengan kepala. “Tisu… permen… kopiko, mentos… Rokok… Rokok… Tisunya mba?” Gelengan kepala kedua. Satu orang Bapak naik kedalam bis. Seorang ibu dengan anaknya duduk di depanku. Mana ngga ada yang keren? Udah lebih dari lima belas menit bisnya belum jalan-jalan juga. Satu orang cewek wangi, sepertinya satu botol parfum habis dipakainya. “Yang aus… Yang aus… Aqua… The botol… Yang dingin yang seger…” Gelengan ketiga. Pagi-pagi udah jual es? Tiga orang mahasiswi. Mereka melewati tempat dudukku. Dan berisik sepertinya mereka asyik ngerumpi sampai lupa kalo ini di dalam bis. “Ya… satu lagi disini saya bawakan donat special… hanya lima ribu rupiah bapak ibu bias mendapatkan lima donat aneka rasa… rasa coklat, strawberry, keju, kacang coklat… dengan cita rasa yang sama dengan yang di jual di mol-mol…saya akan bagikan supaya bias dilihat kalo donat ini baru saja di buat… yang tidak berminat beli saya akan ambil kembali lagi…” Si penjual donat mulai membagikan dagangannya pada para penumpang.

ALL ABOUT MIYA.....

Bukan karena bertemu atau dipertemukan? Yang jelas kita pernah berpisah… bukan berarti berhenti saling mengingat, berhenti saling mencari… bukan berarti semua yang pernah terhenti tidak bisa dijalani kembali… bukan berarti yang pernah hilang tak akan akan ada lagi…. Untuk semua yang pernah merasakan cinta pertama dan menemukannya kembali… ALL ABOUT MIYA… Cewek bernama Takamiya yang bangga menjadi anak dari seorang Ayah yang berprofesi sebagai guru honorer yang juga single parent. Miya baru bekerja 3 bulan sebagai penyiar radio Pramuda. Berdomisili di Jakarta, kota penuh resiko. Naik turun bis, macet menjadi bagian dari hidup Miya yang mau tak mau harus dilaluinya. Dia benci harus berdiri berdesak-desakkan dengan penumpang bis lainnya, dia benci ketika harus mengejar-ngejar bis, dan Miya sadar betul sarana angkutan umum di negaranya tidak menjamin adanya keselamatan, apalagi kenyamanan. Tapi Miya bertemu kembali di dalam Bis dengan cowok yang bernama Agus Rizal alias Ari. Cowok yang menjadi cinta pertamanya. Seiring berjalannya waktu Miya juga sangat menikmati kebersamaannya dengan Her Ali yang notabenenya anak dari almarhum Pramuda Rizal pemilik Radio, Majalah dan Stasiun Tv yang tergabung dalam Pramuda group tempat Miya bekerja. Miya jadi plin-plan, dia bingung menentukan perasaannya? Siapa yang sebenarnya dia cintai? Ari cinta pertamanya yang tergolong cowok cuek,nyebelin dan suka menghilang tanpa jejak? Atau justru Her ali cowok 4T Tinggi, Tampan, Terpelajar, Tajir… Temukan jawabannya di All about Miya…

Sabtu, November 21, 2009

Perempuan di Hati Macan

Perempuan di Hati Macan Kisah cinta Tan Malaka sama tragis dengan hidupnya yang klandestin. Mengidamkan sosok Kartini, ditolak dua kali oleh perempuan yang sama. RAPAT tetua adat Nagari Pandan Gadang, Lima Puluh Kota, berlangsung sengit. Ibrahim, yang belum genap 17 tahun, menolak gelar datuk. Padahal dia anak lelaki tertua keluarga Simabur, yang harus memangku gelar itu sebelum ayahnya meninggal. ”Ibunya memberi pilihan: menolak gelar atau kawin,” kata Zulfikar Kamaruddin, 60 tahun, keponakan Ibrahim, kepada Tempo pada Juli lalu. ... Read More Ibrahim menyerah dan menerima gelar tertinggi dalam adat Minang itu. Maka nama lengkapnya menjadi Ibrahim Datuk Tan Malaka. Sebagai datuk, ia membawahkan keluarga Simabur, Piliang, dan Chaniago. Pesta penobatannya, pada 1913, digelar tujuh hari tujuh malam. Pesta itu sekaligus penyambutan orang rantau yang baru lulus sekolah raja (Kweekschool) di Bukittinggi dan pesta perpisahan. Sebab, datuk muda itu akan segera ke Belanda. Ibrahim mendapat beasiswa sekolah guru di Rijkskweekschool, Haarlem. Hal ini berkat jasa baik guru Belanda yang mencintainya: Gerardus Hendrikus Horensma, setelah uang saweran orang sekampung tak cukup untuk ongkos Ibrahim. Rupanya, penolakan Ibrahim terhadap perjodohan yang diatur Sinah, ibunya, ada bersebab. Telah ada gadis lain di hatinya: Syarifah Nawawi, anak keempat Nawawi Sutan Makmur—guru bahasa Melayu di Kweek yang membantu Charles van Ophuijsen menyusun Kitab Logat Melajoe (dikenal sebagai tata bahasa Ophuijsen) pada 1901. Syarifah adalah perempuan Minang pertama yang mengecap pendidikan ala Eropa. Ada 75 murid di sana. Menurut Gedenkboek Kweekschool 1873-1908, Syarifah dan Ibrahim angkatan 1907. Jumlah murid di kelas mereka 16 orang. Syarifah menjadi kembang karena satu-satunya perempuan di sekolah yang kini menjelma jadi SMA Negeri 2 Bukittinggi itu. Dan Ibrahim satu dari tiga siswa yang melanjutkan studi ke Belanda. Ibra dan Syarifah pun terpisah ribuan mil. Tapi itu bukan halangan bagi sang Datuk untuk terus menjalin hubungan. Ia rajin mengirim surat kepada Syarifah, yang melanjutkan studi sekolah guru di Salemba School, Jakarta. Tapi cinta itu ternyata bertepuk sebelah tangan. Menurut sejarawan Belanda yang menulis biografi Tan Malaka, Harry A. Poeze, Syarifah tak pernah sekali pun membalas surat-surat itu. ”Tan Malaka? Hmm, dia seorang pemuda yang aneh,” begitu katanya kepada Poeze sewaktu mereka bertemu pada 1980. Syarifah tak menjelaskan di mana keanehan orang yang menaksirnya itu. Syarifah kemudian menikah dengan R.A.A. Wiranatakoesoema, Bupati Cianjur yang sudah punya lima anak dari dua selir, pada 1916. Maka muncullah anekdot di keluarga dan di kalangan penulis sejarah Tan Malaka: Tan menjadi Marxis karena kegagalannya dalam cinta pertama. Dia menjadi amat antiborjuis dan feodal untuk melawan orang yang merebut pujaan hatinya. ”Tapi ini cuma anekdot,” kata sejarawan Bonnie Triyana. Tan kemudian mulai membuka hatinya untuk gadis lain: Fenny Struyvenberg, mahasiswi kedokteran berdarah Belanda. Dia terlihat sering datang ke pondokan Tan. Dengan Fenny, Tan kabarnya menjalin hubungan cukup serius. Fenny bahkan sempat ke Indonesia menyusul Tan. Sayang, tak ada banyak catatan dan keterangan soal hubungan mereka. Fenny keburu meninggal saat akan ditemui Poeze. Di Rusia, sewaktu menghadiri sidang Komunis Internasional dan tinggal tiga tahun, Tan diberitakan sempat berhubungan dengan seorang perempuan sana. Menurut Poeze, ada satu koran yang menulis hubungan percintaan Tan dengan perempuan tersebut. Tan Malaka memang selalu punya hubungan mendalam dengan perempuan di setiap negara yang ia kunjungi. Di balik cerita heroiknya berpindah dari satu negara ke negara lain dalam pelarian, selalu muncul sosok perempuan: yang menolong, yang merawat tubuhnya yang sakit, atau sekadar teman. Dalam memoarnya, Dari Penjara ke Penjara, Tan menulis nama-nama perempuan di sekitar hidupnya. Tapi tak ada penjelasan apakah hubungan itu juga dilandasi cinta. Di Kanton, misalnya, ia menyebut ”Nona Carmen”, anak perempuan Rektor Universitas Manila yang memberi petunjuk masuk Filipina, merawat, dan mengajarinya bahasa Tagalog. Di Cina, pada 1937, ada gadis 17 tahun yang ia sebut AP sering datang mengadu dan meminta diajari bahasa Inggris. Sesudah Proklamasi 1945, Tan yang tak lagi klandestin tersiar punya hubungan serius dengan Paramita Rahayu Abdurrachman. Perempuan 25 tahun ini keponakan Menteri Luar Negeri Ahmad Soebardjo. Dia tinggal di paviliun rumahnya di Cikini. Tan sering datang ke sana. Saking lengketnya mereka, teman-teman dekatnya menganggap Paramita tunangan Tan. Padahal umur mereka terpaut 26 tahun. Kepada Poeze yang menemui Paramita pada 1980, perempuan yang tak menikah hingga meninggal pada 1986 itu mengaku mencintai Tan. Namun ”pertunangan” itu tak sampai ke jenjang pernikahan. Situasi politik membuat Tan kembali harus lari dan bersembunyi dari kejaran Kempetai Jepang. Hubungan mereka pun retak. Lagi pula, kata Paramita kepada Poeze, Tan Malaka orang yang hidup tak normal. ”Dia kelewat besar buat saya,” katanya. ”Dia menginginkan saya seperti sosok Raden Ajeng Kartini.” Ironisnya, ibu Paramita tak lain teman karib Syarifah Nawawi. Minarsih Soedarpo-Wiranatakoesoema, anak bungsu Syarifah, sama-sama aktif di Palang Merah Indonesia dengan Paramita. ”Ibu saya cuma bilang kenal Tan sewaktu di Kweekschool,” kata Minarsih, 84 tahun. Paramita, sebetulnya, waktu itu menaksir pemuda Hatta, yang juga sering berkunjung ke rumah Soebardjo. Syarifah sudah menjadi janda dengan tiga anak. Wiranatakoesoema menceraikannya pada 1924 karena menganggap Raden Ayu ini tak bisa mengikuti tata krama Sunda yang amat feodal. Cinta lama Tan pun bersemi kembali. Menurut Minarsih, Tan mendatangi ibunya dan meminang, tapi lagi-lagi ditolak. Lalu siapa perempuan yang betul-betul dicintai Tan Malaka seumur hidupnya? Syarifah? Sepertinya bukan. Syahdan, suatu hari Adam Malik—koleganya di Persatuan Perjuangan yang menjadi wakil presiden pada zaman Soeharto—bertanya kepada Tan Malaka, ”Bung, apa Bung pernah jatuh cinta?” Tan, seperti ditulis Adam dalam Mengabdi Republik, langsung menjawab, ”Pernah. Tiga kali malahan. Sekali di Belanda, sekali di Filipina, dan sekali lagi di Indonesia. Tapi, yah, semua itu katakanlah hanya cinta yang tak sampai, perhatian saya terlalu besar untuk perjuangan.” S.K. Trimurti, Menteri Perburuhan pada zaman Soekarno, menyatakan itu jawaban jujur Tan Malaka. Kepada Poeze, Trimurti bercerita, Tan yang dipanggil ”Macan” sewaktu di Belanda relatif ”bersih” dalam urusan asmara. ”Beliau belum pernah bicara soal perempuan dalam hubungannya dengan tuntutan seks,” tulisnya dalam Peringatan Sewindu Hilangnya Tan Malaka (1957). Itu pula sebabnya, ketika tetua adat Pandan Gadang ”melelang”-nya dalam upacara perjodohan sewaktu ia pulang dari Belanda pada 1919, Tan menolak banyak pinangan. Setelah tak tahan mengajar di sebuah perusahaan perkebunan di Deli, si Macan menyiapkan keberangkatannya ke Semarang. Dia menyongsong hidup dan kematiannya yang—mengutip kalimat Poeze—”lebih dahsyat ketimbang fiksi”.